Mini Course Living in Our Heads: Strategi Mindfulness untuk Meningkatkan Awareness Dalam Proses Perkuliahan

Gambar 1. Dokumentasi Salah Satu Kelas Pelatihan Mini Course Living in Our Heads

Yogyakarta – 02/10/2026 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melalui Unit Konseling Bidang Pengembangan Karakter dan Kesejahteraan (PKK) Biro Kemahasiswaan dan Alumni (Bimawa) menyelenggarakan Pelatihan Mini Course Living in Our Heads: Strategi Mindfulness untuk Meningkatkan Awareness Dalam Proses Perkuliahan yang diselenggarakan secara luring pada tanggal 02 Oktober 2026, pukul 14.00 – 16.00 WIB.

Pelatihan yang diikuti oleh 200 peserta ini dibagi ke dalam 7 kelas kecil terdiri dari sekitar 30 orang dan 1 kelas besar yang terdiri dari 60 orang. Dengan 7 kelas kecil yang didampingi oleh satu mentor dan 1 kelas besar didampingi oleh dua mentor. Para mentor tersebut di antaranya ialah, Nisrina Nurfi Aziza, Fitri Ahmad, Talitha Shafa Syalsabhila, Hasna, Zahrah Faizah, Faza Warda Nadilla, Tresna Widianti, Vianisa Najla Tamara.

Gambar 2. Dokumentasi Ketika Mengisi Materi di Salah Satu Kelas Pelatihan Mini Course Living in Our Head

Hadirnya Pelatihan Mini Course Living in Our Heads memiliki tujuan untuk melatih mahasiswa UAD agar dapat mengetahui apa itu mindfulness, kemudian bagaimana cara menerapkan mindfulness di dalam proses perkuliahan, serta teknik apa yang bisa dilakukan untuk dapat mengatasi pikiran yang negatif di kehidupan sehari-hari, contohnya seperti dengan menerapkan teknik grounding 5-4-3-2-1 dan juga teknik pernapasan 3 menit. Hal tersebut dipaparkan oleh PIC kegiatan tersebut, yaitu Vianisa Najla Tamara.

“Melalui Pelatihan Mini Course ini diharapkan para mahasiswa, dapat mengetahui lebih jelas apa yang di maksud dengan mindfulness, kemudian dapat mengetahui bagaimana cara menerapkan mindfulness di dunia perkuliahan,” ujarnya “Sehingga nantinya dapat menyelesaikan permasalahan yang mungkin akan dihadapi dengan kepala dingin dan menjadi lebih fokus ketika menerima pelajaran di kelas karena sudah dibekali juga dengan teknik sederhana seperti grounding dan teknik pernapasan 3 menit.”

 

Mini Course Memahami Self-Harm dan Menemukan Cara Bertahan yang Lebih Sehat

Gambar 1. Dokumentasi sesi pemberian materi oleh narasumber

Yogyakarta, 26 Juni 2026 – Universitas Ahmad Dahlan melalui Unit Konseling Sebaya di bawah Bidang Pengembangan Karakter dan Kesejahteraan (PKK) Biro Kemahasiswaan dan Alumni menyelenggarakan kegiatan Mini Course bertajuk “Memahami Self-Harm dan Menemukan Cara Bertahan yang Lebih Sehat”. Kegiatan ini dilaksanakan secara luring pada hari Jum’at, 26 Juni 2026, pukul 14.00–16.30 WIB, bertempat di Gedung Utama Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan.

Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 146 peserta yang terdiri atas mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan dan berbagai perguruan tinggi lainnya. Untuk mendukung proses pembelajaran yang lebih efektif, peserta dibagi ke dalam lima kelas kecil yang masing-masing didampingi oleh narasumber yang merupakan Konselor Sebaya Universitas yaitu Faza Warda Nadilla, Fitri Ahmad, Zahrah Faizah, Zahida Zukhruf, Tresna Widianti Nurrahmah, Neng Nabilatul Arsyiyah, Fachni Motthya, dan Nisrina Nurfi Aziza.

Gambar 2. Dokumentasi Permainan Interaktif  sebagai Pemantik Materi Konflik

Mini Course Memahami Self-Harm dan Menemukan Cara Bertahan yang Lebih Sehat diselenggarakan sebagai upaya meningkatkan literasi kesehatan mental mahasiswa, khususnya terkait perilaku self-harm yang masih sering disalahpahami. Melalui kegiatan ini, peserta diajak untuk memahami makna self-harm, mengenali faktor-faktor yang dapat memengaruhinya, memahami dampak yang ditimbulkan, serta mengetahui berbagai alternatif coping yang lebih sehat dalam menghadapi tekanan emosional. Dengan demikian, peserta diharapkan memiliki perspektif yang lebih tepat mengenai self-harm, mampu mengurangi stigma terhadap individu yang mengalaminya, serta lebih berani mencari maupun memberikan dukungan ketika dibutuhkan.

Proses penyampaian materi dikemas secara partisipatif dengan menggabungkan penjelasan materi dan permainan interaktif Benang Koneksi. Pada aktivitas ini, peserta saling menghubungkan benang sebagai simbol bahwa setiap orang memiliki keterkaitan, sumber kekuatan, dan dukungan dari orang-orang di sekitarnya. Melalui refleksi yang dilakukan setelah permainan, peserta diajak menyadari bahwa menghadapi kesulitan tidak harus dilakukan seorang diri, melainkan dapat dibantu melalui hubungan yang sehat dan lingkungan yang suportif. Pendekatan ini membuat suasana belajar menjadi lebih hidup karena peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga terlibat secara aktif dalam memahami pentingnya dukungan sosial dan cara bertahan yang lebih sehat ketika menghadapi berbagai tantangan hidup.

Gambar 3. Dokumentasi Foto Bersama Narasumber dan Peserta Setelah Kegiatan Mini Course Manajemen Konflik

Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama antara narasumber dan seluruh peserta sebagai penanda berakhirnya rangkaian Mini Course Memahami Self-Harm dan Menemukan Cara Bertahan yang Lebih Sehat. Dokumentasi tersebut menjadi wujud kebersamaan sekaligus komitmen bersama untuk terus meningkatkan kepedulian terhadap isu kesehatan mental di lingkungan kampus.

Melalui kegiatan ini, diharapkan wawasan yang telah diperoleh tidak hanya berhenti pada sesi mini course, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam menjaga kesehatan mental diri sendiri maupun dalam memberikan dukungan kepada orang-orang di sekitar.