Bootcamp Konselor Sebaya Tingkat Program Studi “Peran UAD dalam Mendampingi Dahlan Muda Menjadi Mahasiswa Tangguh dan Berprestasi”

Gambar 1. Dokumentasi kegiatan Bootcamp Konselor Sebaya Tingkat Program Studi dengan tema “Peran UAD dalam Mendampingi Dahlan Muda Menjadi Mahasiswa Tangguh dan Berprestasi” 

Yogyakarta, 1 Mei 2026 – Biro Kemahasiswaan dan Alumni (Bimawa) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Konselor Sebaya Tingkat Program Studi pada Jumat, 1 Mei 2026. Kegiatan ini mengusung tema “Peran UAD dalam Mendampingi Dahlan Muda Menjadi Mahasiswa Tangguh dan Berprestasi” sebagai upaya untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam memberikan layanan konseling sebaya di lingkungan program studi.

Gambar 2. Penyampaian Laporan oleh Bapak Dr. Caraka Putra Bhakti, M.Pd, Sambutan Oleh Bapak Dr. Gatot Suguharto, S.H., M.H. dan Penyampaian tausyiyah  oleh Dr. Choirul Fajri, S.I.KOM., M.A.

Pada awal kegiatan, sambutan disampaikan oleh Dr. Caraka Putra Bhakti, M.Pd selaku Kepala Bidang Pengembangan Karakter dan Kesejahteraan (PKK), Bimawa UAD. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya kegiatan ini sebagai wadah pengembangan bagi konselor sebaya. “Melalui kegiatan ini, diharapkan konselor sebaya dapat memahami teknik dan tahapan konseling dengan lebih baik sehingga mampu membimbing sesama mahasiswa secara optimal,” ujarnya. Selain itu, beliau juga menyoroti pentingnya penyamaan pemahaman di tengah latar belakang peserta yang berasal dari berbagai program studi.

Selanjutnya, sambutan kedua disampaikan oleh Dr. Gatot Suguharto, S.H., M.H. yang diawali dengan refleksi dari Q.S. Al-Isra ayat 7. Dalam penyampaiannya, beliau mengajak peserta untuk menyadari bahwa setiap tindakan merupakan cerminan dari diri sendiri. “Apa yang kita lakukan adalah cerminan diri kita, dan menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain merupakan suatu kemuliaan,” ungkapnya. Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa mahasiswa UAD memiliki tanggung jawab untuk aktif mengembangkan diri melalui berbagai pengalaman belajar. “Ikuti kegiatan ini dengan serius agar pengalaman belajar yang diperoleh dapat memberikan manfaat,” tambahnya.

Setelah rangkaian sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan tausyiyah yang disampaikan oleh Dr. Choirul Fajri, S.I.KOM., M.A. Dalam tausyiyah tersebut, beliau menekankan bahwa manusia sejatinya dituntut untuk saling memberikan manfaat. Ia juga mengingatkan bahwa mahasiswa tidak terlepas dari berbagai permasalahan, baik dalam aspek akademik maupun hubungan sosial. “Sebagai konselor sebaya, jadilah pendengar yang baik, memiliki empati, dan mampu memahami kondisi konseli,” tuturnya.

Gambar 3. Penyampaian Materi oleh ibu Dr. Rohmatus Naini, M.Pd. dan Ibu Septiana Rima Dewanti, M.Pd., Ph.D.

Selain itu, beliau juga menambahkan bahwa penting bagi setiap individu untuk menyelesaikan permasalahan pribadinya terlebih dahulu sebelum membantu orang lain. “Selesaikan masalah diri sendiri terlebih dahulu, kemudian bantu orang lain dengan penuh kebermanfaatan,” pesannya. Memasuki sesi inti, pelatihan ini menghadirkan dua narasumber yang kompeten di bidangnya, yaitu Dr. Rohmatus Naini, M.Pd. dan Septiana Rima Dewanti, M.Pd., Ph.D.

Pada sesi pertama, materi disampaikan oleh Dr. Rohmatus Naini, M.Pd. yang membahas mengenai tahapan dan teknik dalam proses konseling. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa proses konseling diawali dengan membangun hubungan awal (rapport) yang baik antara konselor dan konseli. Selain itu, peserta juga diperkenalkan dengan berbagai keterampilan dasar konseling, seperti keterampilan mendengarkan, penggunaan komunikasi verbal dan nonverbal, serta pentingnya gestur dan postur tubuh dalam menciptakan kenyamanan bagi konseli.

Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa peran konselor bukanlah sebagai pemberi solusi. “Konselor bukanlah pemberi solusi, tetapi fasilitator yang membantu konseli menemukan solusi atas permasalahannya sendiri,” jelasnya. Oleh karena itu, konselor perlu memahami kebutuhan konseli secara tepat. “Tanyakan pada konseli, apakah mereka ingin didengarkan atau ingin mencari solusi bersama,” tambahnya.

Selanjutnya, pada sesi kedua, materi disampaikan oleh Septiana Rima Dewanti, M.Pd., Ph.D. yang mengangkat topik mengenai neurosains dan keterampilan coping (coping skills). Dalam penyampaiannya, beliau menjelaskan pentingnya kemampuan regulasi diri dalam menghadapi berbagai tekanan. “Setiap individu perlu memiliki coping skill agar mampu meregulasi diri dalam menghadapi berbagai tekanan,” ujarnya.

Selain itu, beliau juga menjelaskan bagaimana tubuh merespons stres melalui peran hormon. “Adrenalin dapat memicu peningkatan detak jantung dan pernapasan, sedangkan kortisol membantu menyediakan energi saat kita menghadapi situasi yang menegangkan,” jelasnya. Dengan memahami hal tersebut, peserta diharapkan mampu mengenali respon tubuh terhadap stres serta mengembangkan strategi coping yang tepat dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai penutup, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif kepada para konselor sebaya tingkat program studi dalam menjalankan perannya. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan mampu membentuk mahasiswa yang tangguh, berempati, dan berprestasi sesuai dengan nilai-nilai yang dijunjung oleh Universitas Ahmad Dahlan.

Penulis: Fitri Ahmad