Mahasiswa: Harapan dan Kenyataan, Sebuah Refleksi

Kita mahasiswa adalah orang-orang yang beruntung dapat merasakan mengejar ilmu hingga bangku kuliah. Di luar sana banyak saudara-saudara kita yang tidak punya kesempatan, dan impian-impiannya hanya sebatas angan. Kawan, pernahkah tahu tentang kisah si lintang, seorang anak jenius dalam laskar pelangi, tiap pagi berangkat sekolah, dia mengayuh sepeda yang ukurannya lebih besar dari tubuh mungilnya, melewati puluhan kilometer, melewati hutan dan sungai yang berpenghuni buaya, hanya untuk satu tujuan, dia ingin duduk belajar, sesampainya di sekolah dia kan selalu menebarkan senyum indahnya kepada para sahabatnya di kelas, dia merasa bahagia, dia bisa sekolah. Namun, pada akhirnya dia hanya bisa diam melepaskan mimpi-mimpinya, berhenti sekolah waktu kelas 6 SD dan rela bekerja menjadi tulang punggung keluarga karena ayahanda tercintanya meninggal dunia. Kisah lintang merupakan secuil potret perjuangan meraih ilmu yang akhirnya kandas begitu saja, impian hanya impian, masih banyak lintang-lintang yang lain. Kita bukanlah lintang, kita adalah orang-orang yang telah dititipkan oleh Allah amanah untuk menjadi mahasiswa, kita seharusnya bersyukur dan menjalankan amanah yang banyak orang berharap kepada kita.

“Kepada para mahasiswa yang merindukan kejayaan,

Kepada rakyat yang kebingungan di persimpangan jalan..”

Mahasiswa adalah pemuda yang dapat merubah dunia dengan segala semangat dan tekadnya (Ir.Soekarno). Sehingga tidak salah kalau masyarakat berharap banyak akan kontribusinya kepada negara dan warganya.

Kini mahasiswa telah jauh dari kondisi ideal. Predikat “agent of change” pun hanya tinggal nama. Tulang punggung rakyat mungkin hanya sekedar harapan. Mahasiswa oh mahasiswa, dimana kau mahasiswa, dimanakah suaramu mahasiswa?.  Kini kekritisan pun telah luntur perlahan, mahasiswa tiap hari dikejar-kejar tugas dan hasilnya adalah mahasiswa yang “study oriented”. Pada kenyataannya di lapangan, ternyata IPK bagus saja tidak cukup menjamin seorang mahasiswa bisa survive di dunia kerja, dibutuhkan juga soft skills. Idealnya soft skills bisa didapatkan melalui organisasi, namun kondisinya pun memprihatinkan, organisasi yang diharapkan bisa menumbuhkan idealisme mahasiswa justru menjadi wadah untuk menambah pengalaman dalam melakukan berbagai kegiatan saja, atau lebih-lebih membentuk organisatoris yang piawai bicara dengan lantang mengkritisi kekurangan kampus, mengkritisi ini itu namun kurang solusi yang konstruktif, semacam tidak ada bedanya dengan infotainment yang suka membuka aib-aib para artis tanpa solusi.

Iklim kritis pun semakin luntur akibat virus hedonis yang juga mewabah di kalangan sahabat mahasiswa. Wabah hedonis ini tidak hanya kronis di kampus kita saja, namun juga di kampus-kampus lain. “style gue beda-jilbab berponi, fashionholic, caffeholic, shopping, looking-looking for preety girls or cool boys and finally “I love you, you love me?” (bahasa Indonesia againmode: on), dugem, dan berakhir dengan aborsi, naudzubillahimindzalik..

Jika hati kita tergerak melihat potret nyata sahabat-sahabat kita mahasiswa, baiknya kita bertanya, bagaimana caranya menghidupkan kembali power mahasiswa dan mengantar sahabat mahasiswa kembali pada garis orbitnya. Sesuai dengan visi kampus kita tercinta: moral and intelectual integrity, bagaimana menjadi mahasiswa yang mempuyai integritas moral dan keilmuan, sehingga setelah keluar dari kampus ini idealnya kita bisa menjadi sosok yang bermanfaat bagi peradaban.

Sebelum membenahi kondisi sahabat mahasiswa, kiranya yang perlu dibenahi terlebih dahulu adalah motor penggerak di kampus. Dalam hal ini adalah pihak kampus dan kawan-kawan ormawa kampus. Seharusnya kita bersatu menciptakan iklim “mahasiswa yang sebenarnya”, bukan malah sibuk dengan kepentingannya masing-masing, yang kemudian menjadi terkotak-kotak antar ormawa yang satu dengan yang lain. Dalam hal ini, pihak kampus pun perlu berperan dalam membangun kembali spirit kawan-kawan ormawa dan memberikan kesempatan kepada ormawa untuk berekspresi mengupayakan kembali paradigma “mahasiswa yang sebenarnya” ditengah kondisi paradigma “study oriented” yang terlanjur terbentuk akibat sistem yang ada. Baiknya masing-masing ormawa mulai memiliki paradigma kesamaan bukan paradigma perbedaan, kesamaan dimana almamater yang dikenakan sama warnanya, kesamaan bahwa masing-masing ormawa punya tujuan dan cita-cita yang baik untuk mahasiswa, kesamaan bahwa masing-masing ormawa ingin memberikan yang terbaik untuk kampus, dsb. Permasalahan yang terjadi selama ini seperti sudah mengkronis, namun belum ada upaya yang sungguh-sungguh untuk mengobatinya secara bersama-sama. Perubahan ini memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kini bukan saatnya lagi untuk menunjuk siapa yang salah, siapa yang benar, siapa yang paling bertanggungjawab, karena semuanya punya porsi yang sama untuk berperan sesuai dengan perannya masing-masing, pilihannya hanya ada dua: menjadi bagian dari solusi atau menjadi bagian dari masalah.

 “Wahai kalian yang rindu kemenangan,

Wahai kalian yang turun ke jalan,

Demi mempersembahkan jiwa dan raga,

Untuk negeri tercinta.”

Demi mahasiswa, demi almamater orange, demi Merah Putih, dan rakyat yang sedang menunggu.. Bangkitlah mahasiswa!

Wassalam..

——————————————————————————————————————————————- Lafi Munira FKM UAD, Gubernur BEM FKM UAD 2009 Saat ini: Koord. Dewan Pengawas Nasional ISMKMI, Monitoring & Evaluation HPEQ Student Dikti]]>