Deklarasi Mahasiswa DIY Peduli Kesehatan Mental digelar di UAD

Gambar 1. Dokumentasi bersama narasumber, panitia, dan peserta saat pelaksanaan Seminar dan Deklarasi Mahasiswa DIY Peduli Kesehatan Mental
Yogyakarta– Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melalui Biro Kemahasiswaan dan Alumni (BIMAWA) menyelenggarakan seminar bertajuk “Tumbuh Bersama di Kampus: Mengintegrasikan Growth Mindset dan Dukungan Teman Sebaya untuk Kesehatan Mental” yang dirangkaikan dengan Deklarasi Mahasiswa DIY Peduli Kesehatan Mental pada Jumat (24/7/2026) di Amphitarium Kampus IV UAD. Kegiatan ini dihadiri oleh mahasiswa UAD dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai bentuk komitmen bersama dalam meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan mental di lingkungan kampus.

Gambar 2. Dr. Gatot Sugiharto, S.H., M.H. menyampaikan sambutan sekaligus membuka kegiatan Seminar dan Deklarasi Mahasiswa DIY Peduli Kesehatan Mental
Kegiatan diawali dengan sambutan dari Dr. Gatot Sugiharto, S.H., M.H. yang menyampaikan apresiasinya atas antusiasme peserta, khususnya kehadiran mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Menurutnya, tingginya partisipasi tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa masih memiliki kepedulian terhadap isu kesehatan mental. Beliau juga menuturkan bahwa mahasiswa saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks di era perkembangan teknologi. Oleh karena itu, kemampuan menjaga kesehatan mental menjadi bekal penting agar mahasiswa mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan zaman.

Gambar 3. Ratna Yunita Setiyani, S.Psi., M.Psi., Ph.D., Psikolog menyampaikan materi mengenai strategi coping dalam menghadapi berbagai permasalahan.
Materi pertama disampaikan oleh Ratna Yunita Setiyani, S.Psi., M.Psi., Ph.D., Psikolog yang membahas strategi coping dalam menghadapi permasalahan. Beliau menjelaskan bahwa ketika seseorang menghadapi masalah, terdapat dua pendekatan yang umum digunakan, yaitu problem-focused coping dan emotion-focused coping. Namun, tidak sedikit individu yang terlalu lama berfokus pada pengelolaan emosinya sehingga terlambat mengambil langkah untuk menyelesaikan akar permasalahan. Menurutnya, kesehatan mental yang baik tercermin dari kemampuan seseorang mengelola emosi, menyelesaikan masalah, serta tetap memberikan manfaat bagi orang lain.

Gambar 4. Faza Warda Nadila memaparkan pentingnya membangun growth mindset dalam menghadapi dinamika kehidupan mahasiswa.
Selanjutnya, Faza Warda Nadila mengajak peserta memahami dinamika kehidupan mahasiswa perantauan. Ia menjelaskan bahwa banyak mahasiswa datang ke Yogyakarta dengan berbagai harapan dan ekspektasi, tetapi dalam perjalanannya harus menghadapi realitas perkuliahan yang sering kali memunculkan tekanan maupun kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Kondisi tersebut merupakan hal yang wajar, namun mahasiswa perlu membangun growth mindset dengan memandang setiap tantangan sebagai kesempatan untuk berkembang.

Gambar 5. Dr. Caraka Putra Bhakti, M.Pd. menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan mental serta pentingnya dukungan teman sebaya dalam kehidupan mahasiswa.
Materi terakhir disampaikan oleh Dr. Caraka Putra Bhakti, M.Pd. yang menjelaskan bahwa kesehatan mental dipengaruhi oleh budaya dan pengalaman hidup seseorang. Dinamika hubungan dengan teman sebaya juga menjadi salah satu faktor yang membentuk pengalaman serta mempengaruhi kondisi psikologis individu. Beliau menyampaikan bahwa beberapa tanda yang perlu diwaspadai ketika kesehatan mental mulai terganggu antara lain munculnya automatic thinking, kecemasan berlebih, hingga kesulitan tidur.

Gambar 6. Peserta membubuhkan tanda tangan pada banner Deklarasi Mahasiswa DIY Peduli Kesehatan Mental sebagai simbol komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan kampus yang peduli, suportif, dan inklusif terhadap kesehatan mental.
Sebagai puncak kegiatan, seluruh peserta mengikuti Deklarasi Mahasiswa DIY Peduli Kesehatan Mental sebagai bentuk komitmen bersama untuk meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan mental di lingkungan perguruan tinggi. Komitmen tersebut kemudian diwujudkan melalui penandatanganan banner deklarasi oleh perwakilan mahasiswa dan peserta sebagai simbol dukungan dalam menciptakan lingkungan kampus yang peduli, suportif, dan inklusif terhadap kesehatan mental.

