Mini Course Memahami Self-Harm dan Menemukan Cara Bertahan yang Lebih Sehat

Gambar 1. Dokumentasi sesi pemberian materi oleh narasumber
Yogyakarta, 26 Juni 2026 – Universitas Ahmad Dahlan melalui Unit Konseling Sebaya di bawah Bidang Pengembangan Karakter dan Kesejahteraan (PKK) Biro Kemahasiswaan dan Alumni menyelenggarakan kegiatan Mini Course bertajuk “Memahami Self-Harm dan Menemukan Cara Bertahan yang Lebih Sehat”. Kegiatan ini dilaksanakan secara luring pada hari Jum’at, 26 Juni 2026, pukul 14.00–16.30 WIB, bertempat di Gedung Utama Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan.
Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 146 peserta yang terdiri atas mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan dan berbagai perguruan tinggi lainnya. Untuk mendukung proses pembelajaran yang lebih efektif, peserta dibagi ke dalam lima kelas kecil yang masing-masing didampingi oleh narasumber yang merupakan Konselor Sebaya Universitas yaitu Faza Warda Nadilla, Fitri Ahmad, Zahrah Faizah, Zahida Zukhruf, Tresna Widianti Nurrahmah, Neng Nabilatul Arsyiyah, Fachni Motthya, dan Nisrina Nurfi Aziza.

Gambar 2. Dokumentasi Permainan Interaktif sebagai Pemantik Materi Self-Harm
Mini Course Memahami Self-Harm dan Menemukan Cara Bertahan yang Lebih Sehat diselenggarakan sebagai upaya meningkatkan literasi kesehatan mental mahasiswa, khususnya terkait perilaku self-harm yang masih sering disalahpahami. Melalui kegiatan ini, peserta diajak untuk memahami makna self-harm, mengenali faktor-faktor yang dapat memengaruhinya, memahami dampak yang ditimbulkan, serta mengetahui berbagai alternatif coping yang lebih sehat dalam menghadapi tekanan emosional. Dengan demikian, peserta diharapkan memiliki perspektif yang lebih tepat mengenai self-harm, mampu mengurangi stigma terhadap individu yang mengalaminya, serta lebih berani mencari maupun memberikan dukungan ketika dibutuhkan.
Proses penyampaian materi dikemas secara partisipatif dengan menggabungkan penjelasan materi dan permainan interaktif Benang Koneksi. Pada aktivitas ini, peserta saling menghubungkan benang sebagai simbol bahwa setiap orang memiliki keterkaitan, sumber kekuatan, dan dukungan dari orang-orang di sekitarnya. Melalui refleksi yang dilakukan setelah permainan, peserta diajak menyadari bahwa menghadapi kesulitan tidak harus dilakukan seorang diri, melainkan dapat dibantu melalui hubungan yang sehat dan lingkungan yang suportif. Pendekatan ini membuat suasana belajar menjadi lebih hidup karena peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga terlibat secara aktif dalam memahami pentingnya dukungan sosial dan cara bertahan yang lebih sehat ketika menghadapi berbagai tantangan hidup.

Gambar 3. Dokumentasi Foto Bersama Narasumber dan Peserta Setelah Kegiatan Mini Course Memahami Self-Harm
Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama antara narasumber dan seluruh peserta sebagai penanda berakhirnya rangkaian Mini Course Memahami Self-Harm dan Menemukan Cara Bertahan yang Lebih Sehat. Dokumentasi tersebut menjadi wujud kebersamaan sekaligus komitmen bersama untuk terus meningkatkan kepedulian terhadap isu kesehatan mental di lingkungan kampus.
Melalui kegiatan ini, diharapkan wawasan yang telah diperoleh tidak hanya berhenti pada sesi mini course, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam menjaga kesehatan mental diri sendiri maupun dalam memberikan dukungan kepada orang-orang di sekitar.

